{"id":65,"date":"2014-11-07T06:38:00","date_gmt":"2014-11-07T06:38:00","guid":{"rendered":"https:\/\/masimamwis.wordpress.com\/2014\/11\/07\/10-golongan-yang-dilaknat-malaikat\/"},"modified":"2014-11-07T06:38:00","modified_gmt":"2014-11-07T06:38:00","slug":"10-golongan-yang-dilaknat-malaikat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/2014\/11\/07\/10-golongan-yang-dilaknat-malaikat\/","title":{"rendered":"10 Golongan yang Dilaknat Malaikat"},"content":{"rendered":"<div dir=\"ltr\" style=\"text-align: left\">\n<div style=\"text-align: justify\">\nMasih di Jum&#8217;at Mubaraq,\u00a0<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nKalau tadi sudah bercerita tentang <b>12 Golongan yang didoakan Malaikat<\/b>, sekarang kita akan bercerita tentang <b>10 Golongan yang Dilaknat Malaikat<\/b>. Artikel ini diambil dari buletin Jum&#8217;ah (http:\/\/www.konsultasisyariah.com), selamat membaca dan semoga bermanfaat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nKita telah memahami bahwa doa malaikat adalah dosa mustajab.<br \/>\nDisamping karena mereka makhluk yang dekat dengan Allah, doa yang<br \/>\ndipanjatkan para malaikat semuanya atas perintah dari Allah. Karena<br \/>\nmalaikat tidak pernah mendahului apa yang Allah perintahkan, sehingga<br \/>\nmereka tidak akan melakukan sesuatu, kecuali setelah mendapat perintah<br \/>\ndari Allah. Allah ceritakan sifat mereka dalam Al-Quran,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<i>\u201cMereka (orang kafir) berkata: \u201cAr-Rahman telah mengambil<br \/>\n(mempunyai) anak\u201d, Maha suci Allah. sebenarnya malaikat-malaikat itu,<br \/>\nadalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya<br \/>\ndengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya..\u201d<\/i> (QS. Al-Anbiyaa\u2019: 26\u00a0\u2013 27)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDisamping doa baik, para malaikat juga mendoakan keburukan sebagai hukuman untuk para hamba Allah yang melanggar aturan-Nya.<\/div>\n<h3 style=\"text-align: justify\">\n<b>Laknat Malaikat, Ciri Dosa Besar<\/b><\/h3>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSalah satu kaidah yang ditetapkan para ulama, bahwa diantara ciri<br \/>\nperbuatan maksiat statusnya dosa besar adalah adanya ancaman laknat,<br \/>\ntermasuk laknat dari Malaikat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDalam Umdatul Qori dinyatakan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n\u201cAda ulama yang mengatakan bahwa dosa besar adalah semua tindakan<br \/>\nmaksiat. Ada juga yang mengatakan, dosa besar adalah semua dosa yang<br \/>\ndiancam dengan neraka, laknat, murka, atau siksa.\u201d (Umdatul Qori, 4\/485)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nHal yang sama juga disampaikan Dr. Sholeh Al-fauzan, beliau menegaskan,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nLaknat hanya diberikan untuk perbuatan yang haram dan berat tingkat<br \/>\nkeharamannya. Bahkan termasuk dosa besar. Karena diantara batasan dosa<br \/>\nbesar adalah adanya ancaman laknat, murka, neraka, ancaman, atau hukuman<br \/>\n di dunia. (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan, 16\/44)<\/div>\n<h3 style=\"text-align: justify\">\n<b>10 Manusia yang Dilaknat Malaikat<\/b><\/h3>\n<div style=\"text-align: justify\">\nBerikut <b>10 Golongan yang dilaknat Malaikat<\/b>, semoga kita tidak termasuk salah satu diantaranya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Pertama<\/i><\/b>, orang yang mati kafir<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSemua orang yang mati kafir, baik kafir asli maupun kafir pindahan,<br \/>\nalias murtad, keluar dari agama islam. Termasuk orang yang melakukan<br \/>\nperbuatan pembatal islam, seperti tidak pernah shalat, sekalipun dia<br \/>\nmengaku muslim.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nAllah berfirman, yang artinya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<i>\u201cSesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam Keadaan<br \/>\nkafir, mereka itu mendapat la\u2019nat Allah, Para Malaikat dan manusia<br \/>\nseluruhnya. ( ) mereka kekal di dalam la\u2019nat itu; tidak akan diringankan<br \/>\n siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.\u201d<\/i> (QS. Al-Baqarah: 161 \u2013 162).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDisebutkan pula dalam hadis yang menceritakan tentang perjalanan ruh<br \/>\nsetelah kematian. Ketika malaikat pencabut nyawa berada di dekat orang<br \/>\nkafir yang akan meninggal dunia, dia memanggil ruhnya, \u201cWahai jiwa yang<br \/>\nburuk, keluarlah menuju laknat Allah dan murka-Nya.\u201d Ruh itupun<br \/>\nberlarian di jasadnya, kemudian Malaikat mencabutnya dengan paksa<br \/>\nsebagaimana orang menarik gancu yang memiliki banyak cabang runcing di<br \/>\nkain wol yang basah. Sehingga terputus urat darah dan ruas tulangnya.<br \/>\nKemudian seluruh Malaikat yang ada di antara langit dan bumi<br \/>\nmelaknatnya, demikian pula seluruh malaikat yang berada di atas langit,<br \/>\ndan semua pintu langit ditutup untuknya. (HR. Ahmad 18614 dan<br \/>\ndishahihkan Al-Albani dalam Ahkam Al-Janaiz).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nPerbanyaklah memohon kepada Allah agar diberi kekuatan istiqamah, sehingga kita bisa meninggal di atas islam dan sunah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Kedua<\/i><\/b>, orang yang murtad<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nAllah tegaskan bahwa orang yang murtad, dia mendapat laknat Allah dan para malaikat-Nya. Allah berfirman, yang artinya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<i>&#8220;Bagaimana Allah akan memberi petunjuk orang yang kafir sesudah mereka<br \/>\n beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad)<br \/>\nbenar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada<br \/>\nmereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu,<br \/>\nbalasannya adalah laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula)<br \/>\n laknat Para Malaikat dan manusia seluruhnya&#8221;<\/i>. (QS. Ali Imran: 86 \u2013 87)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDiriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu \u2018anhuma, ayat<br \/>\nini turun berkenaan dengan orang anshar yang murtad kemudian dia<br \/>\nbergabung dengan kaum musyrikin. Kemudian dia kembali dan bertaubat,<br \/>\nlalu Nabi<i> shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> menerimanya dan tidak<br \/>\nmembunuhnya. Mujahid dan As-Sudi mengatakan, nama orang anshar itu<br \/>\nadalah Al-Harits bin Suwaid. (Zadul Masir, 1\/301)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Ketiga<\/i><\/b>, menghina dan mencela sahabat<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Ibnu Abbas <i>radhiyallahu \u2018anhuma<\/i>, Rasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i><br \/>\n bersabda, \u201cSiapa yang mencela sahabatku, maka dia akan mendapat laknat<br \/>\nAllah, para malaikat, dan semua manusia.\u201d (HR. Thabrani dalam Mu\u2019jam<br \/>\nAl-Kabir 12541, dan dinilai hasan dalam As-Shahihah no. 2340).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nMencela sahabat statusnya berbeda dengan mencela kaum muslimin<br \/>\nlainnya. Mencela sahabat nilainya dosa sangat besar. Merekalah murid<br \/>\nRasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> dan generasi paling berjasa bagi umat islam. Melalui perjuangan mereka, kita bisa mengenal dan merasakan indahnya islam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nMencela sahabat, sejatinya merupakan sikap pengingkaran terhadap<br \/>\nfirman Allah yang memuji mereka. Allah tegaskan dalam Al-Quran bahwa Dia<br \/>\n telah meridhai kaum Muhajirin dan Anshar. Allah berfirman, yang<br \/>\nartinya,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<i>\u201cAs-Sabiqun Awwalun (orang-orang yang terdahulu masuk Islam)<br \/>\n dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti<br \/>\nmereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha<br \/>\nkepada-Nya dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir<br \/>\nsungai-sungai<\/i> \u2026. (QS. At-Taubah: 100)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nMereka yang mencela Utsman atau Muawiyah, sejatinya telah mengingkari<br \/>\n ayat ini. Mereka mencela, padahal Allah telah meridhai mereka. Ibnul Mubarok (gurunya Imam Bukhari) pernah ditanya: \u2018Siapakah yang<br \/>\nlebih baik, Muawiyah ataukah Umar bin Abdul Aziz?\u2019 Jawab Ibnul Mubarok:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n\u2018Demi Allah, debu yang masuk di hidung Muawiyah ketika bersama Rasulullah<i> shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i>,<br \/>\n lebih baik dari pada 1000 Umar bin Abdul Aziz. Muawiyah shalat di<br \/>\nbelakang Nabi, ketika beliau membaca: Sami\u2019allahu liman hamidah,<br \/>\nMuawiyah mengucapkan: Rabbana wa lakal hamdu. Kira-kira, apa yang<br \/>\nterjadi selanjutnya?\u2019 (Wafayat Al-A\u2019yan, Ibn Khalaqan, 3\/33).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nMuawiyah<i> radhiyallahu \u2018anhu<\/i> seorang sahabat, sementara Umar bin Abdul Aziz seorang tabiin, dan tidak bisa dibandingkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nJika mencela sahabat dilaknat oleh Allah dan para malaikatnya,<br \/>\nbagaimana dengan kelompok yang mengkafirkan sahabat? Laknat Allah bagi<br \/>\norang syiah yang mengkafirkan sahabat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Keempat<\/i><\/b>, menghalangi terlaksananya hukuman bagi pelaku kejahatan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Ibnu Abbas <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>, Rasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> bersabda,<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n\u201cSiapa yang membunuh dengan sengaja maka dia berhak diqishah (balas<br \/>\nbunuh). Dan siapa yang menghalangi antara keluarga korban dengan pelaku<br \/>\nuntuk melakukan qishas maka dia mendapat laknat Allah, para malaikat,<br \/>\ndan semua manusia. Tidak akan diterima darinya amalan wajib maupun amal<br \/>\nsunahnya.\u201d (Shahih, riwayat Nasai 4790 dan Ibn Majah 2635).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nBeberapa praktek di pengadilan, sebagian orang menghalangi<br \/>\nterwujudkan hukuman bagi pelaku tindak kriminal, baik dengan sogok atau<br \/>\nkarena kedudukan. Contoh konkrit yang banyak kita jumpai, beberapa<br \/>\naparat hukum yang melakukan tindak kriminal, lebih sulit dijerat hukum<br \/>\ndari pada rakyat jelata. Mereka dilaknat karena mereka penghianat umat. <i>Allahu a\u2019lam<\/i>.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Kelima<\/i><\/b>, tidak menghargai jaminan keamanan yang diberikan oleh seorang muslim<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Ali bin Abi Thalib <i>radhiyallahu \u2018anhu<\/i>, Rasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> bersabda, <i>\u201cJaminan<br \/>\n kaum muslimin itu satu. Siapa yang mengganggu jaminan keamanan kaum<br \/>\nmukminin maka untuknya laknat Allah, para malaikat dan seluruh umat<br \/>\nmanusia.\u201d<\/i> (HR. Bukhari 1870).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nOrang kafir yang masuk ke negeri muslim, mereka telah mendapatkan<br \/>\nizin dari pemerintah muslim. Izin ini tidak lain adalah jaminan<br \/>\nkeamanan. Karena itu, siapapun tidak boleh mengganggu mereka yang telah<br \/>\nmendapatkan izin, tanpa sebab yang dibenarkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Keenam<\/i><\/b>, mengacung senjata kepada sesama muslim<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Abu Hurairah, Rasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> bersabda, <i>\u201cSiapa<br \/>\n yang mengacungkan senjata kepada saudaranya sesama muslim maka para<br \/>\nmalaikat akan melaknatnya sampai dia lepaskan. Meskipun yang menjadi<br \/>\nsasaran adalah saudaranya sebapak atau seibu.\u201d<\/i> (HR. Muslim 2616).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nIslam melarang kita menakut-nakuti kaum muslimin yang lain, meskipun<br \/>\nhanya dengan mengacungkan senjata untuk main-main. Termasuk mereka yang<br \/>\nngebut ketika naik kendaraan ke arah orang lain \u2013 seolah hendak<br \/>\nmenabraknya \u2013 kemudian direm mendadak di depannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Ketujuh<\/i><\/b>, menasabkan diri kepada selain orang tuanya<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah<i> shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> bersabda, <i>\u201cSiapa<br \/>\n yang mengaku keturunan seseorang yang bukan bapaknya, maka dia mendapat<br \/>\n laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima amal<br \/>\nwajib dan sunahnya pada hari kiamat.\u201d<\/i> (HR. Muslim 1370).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nKarena itu, anak angkat tetap wajib dinasabkan kepada ayah<br \/>\nkandungnya. Kasus yang sulit adalah anak hasil zina. Dia terlahir tanpa<br \/>\nayah. Karena itu, dia harus dinasabkan ke ibunya. Jika dia dibinkan ke<br \/>\nayahnya, berarti mengaku keturunan orang yang bukan bapaknya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Kedelapan<\/i><\/b>, istri yang tidak mau melayani suami tanpa udzur<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Abu Hurairah, Rasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> bersabda, <i>\u201cApabila<br \/>\n suami mengajak istrinya ke ranjang (hubungan badan) dan dia menolak,<br \/>\nkemudian suami marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknatnya<br \/>\nsampai pagi.\u201d<\/i> (HR. Bukhari 3237 &amp; Muslim 1436).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nIstri boleh menolak ajakan suami jika memiliki udzur, seperti haid atau sakit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Kesembilan<\/i><\/b>, melindungi pelaku kriminal atau perbuatan bid\u2019ah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDari Abu Hurairah, Rasulullah <i>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/i> bersabda, <i>\u201cSiapa yang melindungi muhdits maka untuknya laknat Allah, para malaikat dan seluruh umat manusia.\u201d<\/i> (HR. Muslim 1371)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nIbnul Atsir menjelaskan, kata muhdits [arab: \u0627\u0644\u0640\u0645\u062d\u062f\u062b] memiliki dua<br \/>\ncara baca: muhdits dan muhdats. Jika dibaca muhdits artinya pelaku<br \/>\ntindak kriminal. Sehingga makna hadis, \u201cSiapa yang melindungi pelaku<br \/>\ntindak kriminal maka untuknya laknat Allah\u2026dst.\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nJika dibaca muhdats artinya perbuatan bid\u2019ah, sehingga makna hadis,<br \/>\n\u201cSiapa yang melindungi perbuatan bid\u2019ah maka untuknya laknat Allah\u2026dst.\u201d<br \/>\n (An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, 1\/907).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b><i>Kesepuluh<\/i><\/b>, bertindak dzalim di kota Madinah<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nRasulullah pernah berdoa, <i>\u201cYa Allah, siapapun yang mendzalimi<br \/>\npenduduk Madinah atau menakuti mereka, maka jadikan dia takut. Untuknya<br \/>\nlaknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.\u201d<\/i> (HR. Thabrani dalam Mu\u2019jam Al-Kabir 6498 dan dinilai shahih dalam shahih Targhib no. 1214).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSemoga Allah melindungi kita dari setiap penyimpangan dan dosa besar. Amiin<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<b>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b><i><span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Penulis : <b>Wahyu Imam Santoso<\/b><\/span><\/i> <\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<span class=\"fullpost\"><\/p>\n<p><\/span><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masih di Jum&#8217;at Mubaraq,\u00a0 Kalau tadi sudah bercerita tentang 12 Golongan yang didoakan Malaikat, sekarang kita akan bercerita tentang 10 Golongan yang Dilaknat Malaikat. Artikel ini diambil dari buletin Jum&#8217;ah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10,20,28],"class_list":["post-65","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","tag-agama","tag-islam","tag-motivasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=65"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/65\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=65"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=65"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=65"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}