{"id":263,"date":"2016-09-14T10:17:00","date_gmt":"2016-09-14T10:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/masimamwis.wordpress.com\/2016\/09\/14\/kopi-sianida-dan-fakta\/"},"modified":"2016-09-14T10:17:00","modified_gmt":"2016-09-14T10:17:00","slug":"kopi-sianida-dan-fakta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/2016\/09\/14\/kopi-sianida-dan-fakta\/","title":{"rendered":"Kopi, Sianida, dan Fakta"},"content":{"rendered":"<div dir=\"ltr\" style=\"text-align: left\">\n<div class=\"MsoNormal\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjzZtY5OJUM0TCj1spS-gLHcV2jEyCwuNToyrnYkqcqyjf5qi6cHAftEVRqAYf1dipqLT_KyYDi3wdiHd8pjs4PAFic-WaBW6CqvfxGAGivrjn9uFl4KRQikuu4quHDfGrF4cBhKU8Aqrk\/s1600\/berfikir.jpg\" style=\"clear: left;float: left;margin-bottom: 1em;margin-right: 1em\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"154\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjzZtY5OJUM0TCj1spS-gLHcV2jEyCwuNToyrnYkqcqyjf5qi6cHAftEVRqAYf1dipqLT_KyYDi3wdiHd8pjs4PAFic-WaBW6CqvfxGAGivrjn9uFl4KRQikuu4quHDfGrF4cBhKU8Aqrk\/s200\/berfikir.jpg\" width=\"200\" \/><\/a><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<br \/>\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Beberapa bulan terakhir ini kita<br \/>\ndisuguhi berita dengan berbagai versi atas kematian seseorang yang diduga<br \/>\nakibat meminum kopi bercampur <b><i>Sianida<\/i><\/b> \u00a0yang terjadi di salah satu kafe ternama. Sudah<br \/>\npasti kawan pembaca mengetahui kasus itu karena hampir setiap hari diberitakan<br \/>\ndi media massa seperti Televisi, Koran, maupun media online lainya. Bahkan sempat<br \/>\nmenjadi isu yang hangat dibincangkan didunia maya melalui media sosial online. Saya<br \/>\ntidak perlu menjelaskan kronologis kejadian tersebut karena takut akan menjadi<br \/>\nsebuah opini dan bermakna ganda, juga tidak akan menganalisis mengenai penyebab<br \/>\npasti dari kematian karena saya bukan pakar dibidangnya. Apalagi dengan adanya<br \/>\nsaksi ahli beberapa waktu lalu menjelaskan secara rinci yang meragukan penyebab<br \/>\nkematian adalah akibat <b><i>Sianida<\/i><\/b>. Terlebih mengkaji secara<br \/>\nhukum yang pastinya membutuhkan penalaran tinggi dan perdebatan yang cukup \u201cnjelimet\u201d.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Saya sebagai masyarakat umum yang<br \/>\nmengamati sidang yang berlangsung, beberapa kali memang merasa gemes dan<br \/>\njengkel. Saya menganggap media massa terlalu membesar-besarkan persoalan<br \/>\ntersebut, sehingga seperti tidak ada berita lain yang menarik untuk dibahas<br \/>\nselain berita tersebut. Banyak spekulasi muncul dan pikiran-pikiran negatif<br \/>\nterhadap beberapa pihak yang bersangkutan dalam pemberitaan kasus tersebut. Saya<br \/>\nsempat terbawa pikiran \u201cjangan-jangan ini hanya pengalihan isu saja\u201d. Karena<br \/>\nmedia juga tidak menjelaskan secara detail mengenai siapa sebenarnya korban dan<br \/>\nterduga pelaku dan pihak lain yang terkait. \u201cmereka itu siapa sih kok kayaknya<br \/>\nfenomenal banget sampai kasusnya tidak selesai-selesai\u201d gumam dalam hati saya. Dan<br \/>\nmungkin bukan hanya saya yang merasakan hal tersebut. Maka dari itu saya merasa<br \/>\nperlu untuk membuat tulisan sederhana ini untuk meluruskan pemikiran saya<br \/>\ntentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kasus ini dan sidang yang<br \/>\nberlarut-larut ini.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Dengan tulisan ini saya hanya ingin<br \/>\nmenggambarkan sedikit tentang hal yang menurut saya penting untuk sebuah<br \/>\nkebenaran. Kebenaran yang kekal, absolut, hakiki menurut saya hanyalah<br \/>\nkebenaran yang didasari keyakinan yang kuat. Suatu kebenaran yang tidak bisa<br \/>\ndibantah oleh pihak lain karena bersumber pada hati dan keyakinan. Sedangkan kebenaran<br \/>\nyang berdasarkan akal manusia adalah tidak utuh atau bersifat sementara. Saya mengatakan<br \/>\nbersifat sementara maksudnya sebuah kebenaran akan berubah jika ada pembuktian<br \/>\nkebenaran selanjutnya sehingga kebenaran sebelumnya tidak berlaku lagi. Kebenaran<br \/>\nsementara juga dapat dilatarbelakangi faktor politik, sosial budaya, dan<br \/>\nekonomi. <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Saya ambil contoh, misal kebenaran<br \/>\nbahwa bumi bukan pusat tata surya, Teori <b>Heliosentris<\/b><br \/>\nyang mengatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya pada 1543 M telah<br \/>\nmematahkan teori <b>Geosentris<\/b> yang<br \/>\nmengatakan Bumi adalah pusat tata surya yang sudah ber abad-abad dan dipercaya<br \/>\noleh penguasa Gereja. Pendapat itu di kuatkan oleh Galileo Galilei 1612 M, Pernyataan<br \/>\ntersebut jelas menentang keputusan Gereja dan dia harus menerima konsekuensi<br \/>\ndiusir dan dijatuhi hukuman mati. Dan akhirnya sampai sekarang teori <b>Heliosentris<\/b> lah yang dipakai. Dari kasus<br \/>\ntersebut kita belajar bahwa untuk membuktikan suatu teori membutuhkan waktu<br \/>\nbertahun-tahun bahkan berabad-abad serta dipengaruhi beberapa faktor. Perdebatan,<br \/>\npertentangan serta konsekuensi pahit kerap kali menjadi bagian tak terpisahkan.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Contoh lebih sederhana adalah jumlah<br \/>\nplanet di tata surya. Jaman saya SD diceritakan oleh guru dan buku pelajaran<br \/>\nbahwa jumlah planet di tata surya kita ada 9 planet. Sedangkan sekarang dari<br \/>\nhasil kajian dan penelitian para astronom menyatakan jumlah planet di tata<br \/>\nsurya ada 13 planet. Pengetahuan tersebut bisa saja berubah ditahun-tahun<br \/>\nmendatang jika ditemukan fakta dan pembuktian yang baru.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><br \/><\/span><\/div>\n<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi-jzv4_3mpuhGXMTq2elcdaTUx8p4SJT9eRLmDNbVbFqRCoWwGn31-wRAxeF7EzyOiXJzw1DqSUiv8BmyLnEKP4H5VYEFEL5RF8plx5lyDSpCWCN826fbuXlH6iviqtVZRruCXhAA84D8\/s1600\/filsafat_islam.jpg\" style=\"clear: left;float: left;margin-bottom: 1em;margin-right: 1em\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"255\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi-jzv4_3mpuhGXMTq2elcdaTUx8p4SJT9eRLmDNbVbFqRCoWwGn31-wRAxeF7EzyOiXJzw1DqSUiv8BmyLnEKP4H5VYEFEL5RF8plx5lyDSpCWCN826fbuXlH6iviqtVZRruCXhAA84D8\/s400\/filsafat_islam.jpg\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">Dari situ saya belajar bahwa untuk<br \/>\nmenentukan sebuah fakta diperlukan waktu yang panjang, kajian yang mendalam dan<br \/>\npenelitian yang intensif. Maka dari itu dua contoh yang saya sampaikan diatas saya<br \/>\nharapkan dapat membuat kita semakin bijak menaggapi kasus kopi ber <b><i>Sianida<\/i><\/b><br \/>\n\u00a0yang diduga menyebabkan kematian<br \/>\ntersebut. Boleh jadi ini adalah sedikit dari proses pencarian fakta apakah <b><i>Sianida<\/i><\/b><br \/>\nmemang menjadi penyebab kematian atau mungkin karena faktor lain. Untuk menentukan<br \/>\nfakta tersebut pastinya tidak dengan waktu singkat dan juga membutuhkan kajian<br \/>\ndan penelitian yang mendalam. Jadi menurut saya ini adalah proses yang menarik<br \/>\nuntuk mengukur penalaran kita dan menjadikan ini sebagai tambahan ilmu dengan<br \/>\npendekatan filosofi.<\/span><\/p>\n<p><i>P<\/i><span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><i><span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\">enulis : <b>Wahyu Imam Santoso<\/b><\/span><\/i> <\/span><br \/>\n<span style=\"font-size: 12.0pt;line-height: 115%\"><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"text-align: justify;text-indent: 21.3pt\">\n<\/div>\n<p><span class=\"fullpost\"><\/p>\n<p><\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa bulan terakhir ini kita disuguhi berita dengan berbagai versi atas kematian seseorang yang diduga akibat meminum kopi bercampur Sianida \u00a0yang terjadi di salah satu kafe ternama. Sudah pasti kawan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14,17,18,31,40],"class_list":["post-263","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","tag-berita","tag-fakta","tag-filosofi","tag-opini","tag-sianida"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=263"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/263\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=263"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=263"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=263"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}