{"id":259,"date":"2019-02-08T13:36:00","date_gmt":"2019-02-08T13:36:00","guid":{"rendered":"https:\/\/masimamwis.wordpress.com\/2019\/02\/08\/amankah-mengkonsumsi-msg\/"},"modified":"2019-02-08T13:36:00","modified_gmt":"2019-02-08T13:36:00","slug":"amankah-mengkonsumsi-msg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/2019\/02\/08\/amankah-mengkonsumsi-msg\/","title":{"rendered":"Amankah Mengkonsumsi MSG?"},"content":{"rendered":"<div dir=\"ltr\" style=\"text-align: left\">\n<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\"><a style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\" href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi60wPoalgMk-I-Brq7qHXE8OgKQnwXfVL0pwJ_5vHDaa9MC_edCwmp-s0su4FWv_pJILAuLj10JIm7E642AI9i_7t_ZLghjrmRtRj70fn1Qi18H3u03cjzfUTCO2DU1X4gezW3kd17bDo\/s1600\/micin.JPG\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi60wPoalgMk-I-Brq7qHXE8OgKQnwXfVL0pwJ_5vHDaa9MC_edCwmp-s0su4FWv_pJILAuLj10JIm7E642AI9i_7t_ZLghjrmRtRj70fn1Qi18H3u03cjzfUTCO2DU1X4gezW3kd17bDo\/s320\/micin.JPG\" width=\"320\" height=\"213\" border=\"0\" \/><\/a><\/div>\n<p><b>Untuk meningkatkan rasa makanan menjadi lebih gurih, sering kali digunakan zat tambahan, di antaranya MSG. Tapi apa sebenarnya\u00a0<\/b><b>efek<\/b><b> MSG dan amankah untuk dikonsumsi?<\/b><br \/>\nMSG atau kependekan dari <i>m<\/i><i>onosodium <\/i><i>g<\/i><i>lutamate<\/i> adalah penyedap rasa yang biasanya ditambahkan pada makanan. Meski Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), <i>Food and Agriculture Organization<\/i> (FAO) dan <i>World Health Organization<\/i> (WHO) memasukkan MSG dalam klasifikasi bahan makanan yang \u201csecara umum dianggap aman\u201d, penggunaan <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/bahan-zat-aditif-yang-disarankan-untuk-dihindari\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">zat aditif<\/a> itu tetaplah kontroversial.<\/p>\n<h3><b>Apa itu MSG?<\/b><\/h3>\n<div style=\"text-align: justify\">MSG adalah molekul sodium yang dikombinasi dengan asam glutamat.<br \/>\nMolekul sodium digunakan untuk menstabilkan molekul glutamat, sementara<br \/>\nasam glutamat berfungsi sebagai penyedap rasa.<\/div>\n<p>Sebagian ilmuwan menyebut glutamat sebagai \u201cumami\u201d, sebuah penyebutan<br \/>\nuntuk rasa kelima yang dapat dirasakan oleh indera perasa\u00a0manusia,<br \/>\nselain manis, asin, pahit, dan asam.<br \/>\nRasa umami dan penggunaan MSG telah lama menjadi bahan utama dalam<br \/>\nmasakan Asia, terutama makanan Tiongkok. Sebenarnya glutamat tidak<br \/>\nmemiliki rasa, namun mampu meningkatkan rasa lain dan menambahkan rasa<br \/>\ngurih.<\/p>\n<h3><b>Yang Perlu Diperhatikan Mengenai MSG <\/b><\/h3>\n<div style=\"text-align: justify\">Efek negatif MSG terhadap kesehatan mulai dipertanyakan dalam sebuah surat yang dipublikasikan <i>New England Journal of Medicine<\/i><br \/>\npada tahun 1968. Seorang dokter menceritakan reaksi negatif yang<br \/>\ndialami setelah mengonsumsi makanan Tiongkok-Amerika, dia menyoroti MSG<br \/>\nsebagai salah satu penyebab potensial dari reaksi tersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Pada akhir tahun 1960-an, makin banyak yang memperbincangkan hal tersebut. Situasi saat itu lebih dikenal dengan \u201c<i>Chinese Restaurant Syndrome<\/i>\u201d.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Penelitian selama empat puluh tahun terakhir menduga bahwa ada<br \/>\nsebagian orang yang memiliki sensitivitas atau alergi terhadap MSG.<br \/>\nTingkat sensitivitas setiap orang terhadap MSG memang berbeda-beda. Di<br \/>\nsuatu penelitian, terlihat bahwa mereka yang mengonsumsi 3 gram MSG<br \/>\ndalam satu sajian makanan lebih banyak mengeluhkan gejala, seperti<br \/>\npusing, otot terasa tegang, kesemutan, dan wajah memerah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Selain itu, kebiasaan mengonsumsi MSG dalam jangka panjang terbukti dapat menyebabkan\u00a0<a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/mitos-tekanan-darah-tinggi\">tekanan darah tinggi<\/a>. Studi penelitian lain juga sempat menuding MSG sebagai salah satu penyebab\u00a0<a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/obesitas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">obesitas,\u00a0<\/a>namun secara ilmiah hal ini belum terkonfirmasi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Jika Anda merasa bahwa Anda adalah salah seorang yang mengalami<br \/>\nkondisi itu, cobalah untuk membatasi penggunaan MSG, baik dalam masakan<br \/>\ndan juga konsumsi makanan kemasan. Bagi Anda yang tidak memiliki reaksi<br \/>\nnegatif tersebut, belum ada bukti ilmiah yang kuat terhadap dampak buruk<br \/>\nMSG.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/wistani.com\/amankah-mengkonsumsi-micin-msg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>ingin tahu info menarik lainnya klik disini<\/b><\/a><\/div>\n<h3><b>Reaksi yang Dapat Terpicu Akibat MSG<\/b><\/h3>\n<p>MSG telah digunakan sebagai aditif makanan sejak lama. Berbagai<br \/>\nlaporan mengenai reaksi yang dapat terpicu oleh MSG dikenal sebagai<br \/>\ngejala kompleks MSG, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Tubuh menjadi lemas<\/li>\n<li>Kulit menjadi merah<\/li>\n<li>Tekanan atau rasa kencang pada wajah<\/li>\n<li>Berkeringat<\/li>\n<li>Mati rasa, kesemutan atau rasa terbakar di bagian tubuh tertentu, misalnya leher dan wajah<\/li>\n<li>Detak jantung yang cepat<\/li>\n<li>Nyeri dada<\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/sakit-kepala\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sakit kepala<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/mual\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mual<\/a>.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><b>Bagaimana Cara Membuatnya Tetap Lezat Tanpa MSG?<\/b><\/h3>\n<div style=\"text-align: justify\">Sebenarnya tidak sulit mendapatkan rasa gurih atau \u2018umami\u2019 dalam<br \/>\nmakanan Anda tanpa menambahkan taburan MSG. Berikut ini adalah beberapa<br \/>\njenis makanan yang bisa meningkatkan rasa umami secara alami:<\/div>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/9-manfaat-tomat-buah-yang-disangka-sayur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tomat<\/a><\/li>\n<li>Kecap asin<\/li>\n<li>Jamur<\/li>\n<li>Sawi putih<\/li>\n<li>Kecap ikan<\/li>\n<li>Rumput laut<\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/manfaat-zaitun-dan-resep-lezat-olahannya\">Zaitun<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<div style=\"text-align: justify\">Anda dianjurkan untuk\u00a0membatasi asupan MSG dalam makanan sehari-hari.<br \/>\nNamun\u00a0 memang tidak ada salahnya untuk menambahkan MSG sebagai<br \/>\npenyedap, dengan dosis rendah atau sedang, sesekali ke dalam masakan<br \/>\nAnda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Referensi :<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Shi, Z., Yuan, B., Taylor, A., et al. Wolters Kluwer Health, NCBI<br \/>\n(2011). Monosodium Glutamate is Related to a Higher Increase in Blood<br \/>\nPressure Over 5 Years: Findings from the Jiangsu Nutrition Study ff<br \/>\nChinese Adults. Journal of Hypertension, 29(5):846-53.<\/p>\n<p>Badan Pengawas Obat dan Makanan. Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK).<\/p>\n<p>Zeratsky, K. Mayo Clinic (2018). What is MSG? Is it bad for you?<\/p>\n<p>Bellati, A. Berkeley Wellness, University of California (2016). Umami Flavor on the Rise.<\/p>\n<p>Leech, J. Healthline (2016). MSG (Monosodium Glutamate): Good or Bad?<\/p>\n<p>Roussel, M. Shape. Ask the Diet Doctor: The Truth About MSG.<\/p>\n<p>Downs, M. WebMD (2008). The Truth About 7 Common Food Additives.<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teman-teman<br \/>\nberikut ini saya posting ulasan tentang MSG yang saya ambil dari https:\/\/www.alodokter.com\/kontroversi-umami-dari-msg<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk meningkatkan rasa makanan menjadi lebih gurih, sering kali digunakan zat tambahan, di antaranya MSG. Tapi apa sebenarnya\u00a0efek MSG dan amankah untuk dikonsumsi? MSG atau kependekan dari monosodium glutamate adalah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[23,41],"class_list":["post-259","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kampus","tag-kesehatan","tag-teknologi-pangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=259"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/259\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}