{"id":14,"date":"2018-12-09T16:27:00","date_gmt":"2018-12-09T16:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/masimamwis.wordpress.com\/2018\/12\/09\/mengelola-stress-dan-konflik-di-tempat-kerja\/"},"modified":"2018-12-09T16:27:00","modified_gmt":"2018-12-09T16:27:00","slug":"mengelola-stress-dan-konflik-di-tempat-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/2018\/12\/09\/mengelola-stress-dan-konflik-di-tempat-kerja\/","title":{"rendered":"Mengelola Stress dan Konflik di Tempat Kerja"},"content":{"rendered":"<div dir=\"ltr\" style=\"text-align: left\">\n<div class=\"WordSection1\">\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<div class=\"separator\" style=\"clear: both;text-align: center\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhjU12imNcwBFoYkqHH4-WnN-obIxKl1YO4-aq78dkYiwSsab0W-Nhpm0BKFkNpk-V4fRJLb2oq4Iqte1O_noW4O9FI3tTAcOvompaPb3W8jBdQzQg_tw8BFDuXqFHX66BAW2RE0cp2jiA\/s1600\/stress.jpg\" style=\"margin-left: 1em;margin-right: 1em\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" height=\"225\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhjU12imNcwBFoYkqHH4-WnN-obIxKl1YO4-aq78dkYiwSsab0W-Nhpm0BKFkNpk-V4fRJLb2oq4Iqte1O_noW4O9FI3tTAcOvompaPb3W8jBdQzQg_tw8BFDuXqFHX66BAW2RE0cp2jiA\/s320\/stress.jpg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<p><span lang=\"EN-US\">Bagi sebagian<br \/>\nbesar individu dewasa, bekerja merupakan hal yang lebih dari sekedar kewajiban<br \/>\nempat puluh jam seminggu. Bahkan jika kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan<br \/>\ntersebut ditambahkan, seperti waktu perjalanan ke dan dari tempat kerja, persiapan<br \/>\nuntuk bekerja dan waktu makan siang, maka kebanyakan individu mempergunakan<br \/>\nsepuluh jam atau lebih seharinya untuk aktivitas yang berkaitan dengan<br \/>\npekerjaannya. Selain soal waktu, banyak pula individu yang menemukan porsi<br \/>\npenting kepuasan mereka dan identitas dalam pekerjaannya. Pekerjaan menjadi<br \/>\nbagian utama dalam hidup. Konsekuensinya, stres dan konflik muncul sebagai<br \/>\nbagian dari dinamika kerja, dan mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-US\">Stres dan<br \/>\nkonflik merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan, karena konflik<br \/>\nmerupakan salah satu sumber potensial dari stres (Moekijat, 1990). Stres dan<br \/>\nkonflik di tempat kerja bukanlah fenomena baru. Namun, saat<span>\u00a0 <\/span>ini konsep tentang stress dan konflik kerja<br \/>\ntelah menarik dan mengguncang perhatian nasional. Tekanan dan pertentangan<br \/>\nmenjadi masalah manajemen yang sangat penting dalam dunia bisnis. Menurut <i>National Safety Council<\/i> (2003), manajer<br \/>\nperusahaan dan HRD pabrik mengakui keberadaan stress telah mewabah. Dua dari<br \/>\ntiga pekerja mengaku mengalami tekanan kerja. Perusahaan dapat merugi akibat<br \/>\ndari dampak yang dihasilkan stres, yang sebagian besar adalah masalah absen,<br \/>\nketerlambatan, kejenuhan, produktivitas yang semakin rendah, angka keluar masuk<br \/>\nyang tinggi, kompensasi kerja dan peningkatan biaya asuransi kesehatan. <span>\u00a0<\/span>Di sisi lain, stres dan konflik dalam jumlah<br \/>\ntertentu diperlukan untuk memicu prestasi kerja. <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">STRES<br \/>\nDALAM LINGKUNGAN KERJA<\/span><\/b><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Pengertian<br \/>\nstres<\/span><\/b><span lang=\"EN-US\">\u00a0<\/span><br \/>\n<span lang=\"EN-US\">Terdapat<br \/>\nberbagai pengertian stres, Dari sudut pandang orang biasa, stres dapat<br \/>\ndigambarkan sebagai perasaan tegang, gelisah atau khawatir. Istilah stres telah<br \/>\ndidefinisikan secara harfiah dalam berbagai literatur. Namun, secara umum stres<br \/>\ndapat diartikan sebagai suatu kondisi dinamis yang dialami seseorang saat<br \/>\ndihadapkan pada peluang, tuntutan atau sumber daya yang berkaitan dengan<br \/>\nhal-hal yang diinginkan. Untuk itu, stres tidak selalu berarti buruk (Ivancevich<br \/>\n<i>et al<\/i>., 2008; Robbins <i>et al<\/i>., 2014).<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Sumber<br \/>\nStres<\/span><\/b><span lang=\"EN-US\">\u00a0<\/span><br \/>\n<span lang=\"EN-US\">Kondisi<br \/>\nlingkungan yang khas sebagai sumber stres yang potensial disebut sebagai suatu<br \/>\npenekan atau stressor. Terdapat lima jenis sumber stres yang potensial, yaitu<br \/>\nstressor lingkungan fisik, stressor individu, stressor kelompok, dan stressor<br \/>\nkeorganisasian (Gibson <i>et al<\/i>., 2012)<\/span><\/div>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Stressor<br \/>\n     Lingkungan Fisik<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Ketidaknyamanan dalam lingkungan kerja berasal<br \/>\ndari berbagai macam fenomena fisis seperti getaran, ledakan, suhu, bahan kimia<br \/>\nberacun, radiasi, ketinggian, iklim dan cuaca.<\/span><\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Stressor<br \/>\n     Individu<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Dalam lingkungan kerja, konflik peran<br \/>\nadalah yang paling banyak terjadi. Segi-segi konflik peran mencakup perasaan<br \/>\ntidak menentu karena tuntutan yang dari atasan yang berlawanan dengan harapan<br \/>\npekerja. Konflik peran bisa disebabkan oleh pemimpin yang tidak memberikan<br \/>\nhak-hak, hak-hak istimewa dan kewajiban dengan tepat kepada karyawannya.<br \/>\nAkibatnya, pekerja mengalami suatu hal yang dinamakan <i>overlapping<\/i>, atau suatu ketidakseimbangan beban kerja. <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Diagram U terbalik menjelaskan hubungan<br \/>\nantara tekanan yang disebabkan oleh beban kerja dengan prestasi karyawan<br \/>\n(Gibson <i>et al<\/i>., 2006) Beban yang<br \/>\nterlalu ringan tidak membuat karyawan bersemangat. Tidak ada suatu pemicu yang<br \/>\nmendorong daya kreativitas. Beban kerja yang sesuai akan membuat pekerja<br \/>\nbersemangat dan mencapai prestasi yang optimal. Namun, beban kerja yang<br \/>\nberlebih justru menyebabkan pekerja kelelahan, produktivitas kerja menurun.<\/span><\/div>\n<div align=\"center\" class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: center\">\n<span lang=\"EN-US\"><br \/><\/span><\/div>\n<ol start=\"3\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Stressor<br \/>\n     Kelompok<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Banyak karakteristik kelompok yang dapat<br \/>\nmenjadi stressor kuat bagi sebagian individu. Hubungan yang baik di antara<br \/>\nanggota suatu kelompok kerja merupakan faktor sentral bagi kesejahteraan<br \/>\nindividu. Hubungan yang buruk mencakup rendahnya kepercayaan, dukungan serta<br \/>\nkeengganan untuk mendengarkan dan mencoba menanggulangi masalah yang dihadapi<br \/>\nseorang karyawan. <\/span><\/div>\n<ol start=\"4\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Stressor<br \/>\n     keorganisasian<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Sebagian orang merasa frustasi dengan<br \/>\nkewajiban berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Lainnya bisa saja<br \/>\nmemandang suatu keikutsertaan dalam pengambilan keputusan merupakan ancaman<br \/>\nterhadap hak-hak tradisional seorang manajer yang mempunyai hak untuk mengambil<br \/>\nkeputusan akhir. <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Bagian lainnya dari stressor<br \/>\nkeorganisasian adalah struktur organisasi yang terlalu kaku. Pemimpin<br \/>\nmenerapkan peraturan yang terlalu kaku tanpa adanya pengecualian. Dalam<br \/>\nlingkungan yang seperti itu, pekerja justru mengalami penurunan produktivitas<br \/>\ndan kepuasan kerja.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Sindrom<br \/>\nAdaptasi Umum<\/span><\/b><span lang=\"EN-US\">\u00a0<\/span><br \/>\n<span lang=\"EN-US\">Stres dapat<br \/>\ndirasakan atau dialami oleh seseorang atau tidak tergantung pada karakteristik<br \/>\nmasing-masing orang. Hal ini berkaitan dengan respon adaptasi. Hans Selye pada<br \/>\ntahun 1976<span>\u00a0\u00a0 <\/span>mengutarakan teori yang<br \/>\nberkaitan dengan tanggapan terhadap stres yang disebut <i>General Adaptation Syndrome<\/i>. Selye mengutarakan terdapat tiga<br \/>\ntahapan yang dapat ditentukan sehubungan dengan tanggapan stres manusia, yaitu<br \/>\ntahap peringatan, tahap perlawanan dan tahap keletihan (Coon and Mitterer, 2011)<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-US\">Tahap peringatan<br \/>\nterjadi sebagai suatu reaksi terhadap ancaman yang dirasakan. Tubuh dalam<br \/>\nkeadaan mencoba membiasakan diri, ditandai dengan rasa cemas, berdebar, otot<br \/>\ntegang<span>\u00a0 <\/span>yang tidak berlangsung lama. Bila<br \/>\nstres terus berlangsung, tahap ini akan segera digantikan oleh tahap<br \/>\nperlawanan. Perlawanan di sini berarti perlawanan terhadap penekan atau sumber<br \/>\nstres. Pada tahap ini, tubuh sudah terbiasa dan mengenali tekanan yang dialami.<br \/>\nTanda-tanda yang muncul pada tahap pertama sebagian besar hilang. Namun,<br \/>\napabila individu yang sudah memasuki tahap ini diberikan tambahan stressor yang<br \/>\nlain, pertahanan tubuhnya akan mengendur. Tahap ketiga adalah keletihan. Jika<br \/>\nstres menimpa cukup keras atau berlangsung lama, tahap perlawanan akan<br \/>\ndigantikan oleh tahap keletihan. Tahap ini erat kaitannya dengan penyakit<br \/>\npsikosomatis, seperti tukak lambung, radang usus halus, dan gangguan pembuluh<br \/>\ndarah pada jantung (Coon and Mitterer, 2011; Fraser, 1992).<i> <\/i><span>\u00a0<\/span><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Konsekuensi<br \/>\nstres<\/span><\/b><span lang=\"EN-US\">\u00a0<\/span><br \/>\n<span lang=\"EN-US\">Dampak stres<br \/>\nsangat banyak dan beragam. Tentunya, beberapa di antaranya bersifat positif. Namun,<br \/>\nbanyak juga stressor yang sifatnya mengganggu dan secara potensial berbahaya. Terdapat<br \/>\nlima jenis konsekuensi stres yang potensial, yaitu dampak subjektif, dampak<br \/>\nperilaku, dampak kognitif, dampak fisiologis, dan dampak organisasi. <span>\u00a0<\/span>Dampak subjektif adalah dampak yang dirasakan<br \/>\nsuatu individu, tetapi belum tentu dirasakan individu lainnya, seperti rasa<br \/>\ncemas, bosan, acuh, depresi, keletihan, gugup, merasa kesepian. Selanjutnya<br \/>\nstres juga bisa memberikan dampak terhadap perilaku individu. Pekerja yang<br \/>\ntertekan dapat mencurahkan semua yang dialaminya dengan merokok berlebihan,<br \/>\nmakan berlebihan, minum alkohol dan masalah perilaku lainnya. Dalam keadaan<br \/>\ntertekan, pekerja dapat kehilangan kemampuan kognitifnya, diantaranya<br \/>\nketidakmampuan mengambil keputusan yang jelas, mudah lupa, dan tidak<br \/>\nkonsentrasi. Kemudian individu yang mengalami stres dapat merasakan dampak fisiologis,<br \/>\nyaitu mengalami gangguan metabolisme dalam tubuh, seperti meningkatnya kadar<br \/>\ngula, dehidrasi, gangguan pencernaan dan gangguan lainnya. Adapun dampak<br \/>\nkeorganisasian adalah dampak yang dialami pekerja dalam lingkungan sosial<br \/>\nkerjanya, seperti absen, rendahnya produktivitas, mengasingkan diri,<br \/>\nketidakpuasan kerja. <span>\u00a0<\/span><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Program<br \/>\nPengelolaan Stres<\/span><\/b><\/div>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"1\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Strategi<br \/>\n     Pemimpin<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Seorang pemimpin<br \/>\nyang bijaksana tidak pernah mengabaikan masalah stres yang dialami karyawannya.<br \/>\nManajer yang efektif memandang kejadian ini sebagai gejala dan melihat di<br \/>\nbelakang gejala tersebut untuk mengidentifikasi dan mengoreksi sebab-sebab yang<br \/>\nmendasarinya. Sebagai pemimpin strategi yang dapat dilakukan di antaranya:<\/span><\/div>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Analisis<br \/>\n     Peranan:<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Jika stres berlebihan muncul dalam suatu<br \/>\nperanan, pemimpin dapat memprakarsai tanggapan: merumuskan peranan orang yang<br \/>\nbersangkutan,dan mengurangi beban peranan berlebihan dengan mendistribusikan<br \/>\nkembali pekerjaan. Masing-masing cara tersebut dilakukan untuk meningkatkan<br \/>\nkesesuaian antara orang pada suatu peranan tertentu dengan pekerjaan.<\/span><\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Program<br \/>\n     Perusahaan yang Luas: <\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Program penanggulangan stres dapat<br \/>\nditawarkan atas dasar yang luas pada perusahaan. Artinya, program yang<br \/>\ndilakukan dapat bermanfaat untuk seluruh pekerja yang ada dalam perusahaan,<br \/>\nsebagai cara untuk mencegah dan menanggulangi stres. Contohnya adalah outbound,<br \/>\ntur bersama, program konseling dan pelayanan kesehatan.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"1\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Pendekatan<br \/>\n     Individual Terhadap Stres<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Individu dapat<br \/>\nmengelola sendiri secara mandiri stres yang dialaminya. Cara yang dapat dilakukan<br \/>\nantara lain relaksasi, meditasi, <i>biofeedback<\/i>,<br \/>\nberpikir positif, menarik nafas dalam-dalam, dan sebagainya. <span>\u00a0<\/span><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">KONFLIK<br \/>\nDALAM LINGKUNGAN KERJA<\/span><\/b><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Konflik<br \/>\nsebagai Bagian dari Stres<\/span><\/b><span lang=\"EN-US\">\u00a0<\/span><br \/>\n<span lang=\"EN-US\">Istilah konflik tidak<br \/>\ndapat dipisahkan dari stres, karena konflik merupakan salah satu sumber<br \/>\npotensial dari stres (Moekijat, 1990). Perbedaan yang terdapat dalam lingkungan<br \/>\nkerja, baik fisik maupun sosial, sering menyebabkan terjadinya ketidakcocokan<br \/>\nyang akhirnya menimbulkan konflik. Konflik tersebut dapat menjadi tekanan<br \/>\npositif dan juga negatif bagi individu. Menjadi tekanan positif apabila<br \/>\nkehadiran konflik dapat meningkatkan peforma kerja. Sebaliknya, apabila konflik<br \/>\ndibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian dapat menjadi tekanan yang negatif,<br \/>\nsehingga menyebabkan penurunan efektivitas dan produktivitas kerja (Rusdiana,<br \/>\n2015). <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Penyebab<br \/>\nMunculnya Konflik dalam Lingkungan Kerja<\/span><\/b><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify;text-indent: 36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Terdapat<br \/>\nbeberapa hal yang menyebabkan konflik dalam lingkungan kerja, diantaranya<\/span><\/div>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"1\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Faktor<br \/>\n     Individu<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify;text-indent: 36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Seseorang dengan<br \/>\nkarakter tertutup terhadap dirinya sendiri dan orang lain memiliki kemungkinan<br \/>\nyang tinggi untuk mengalami konflik, dibandingkan individu dengan karakter<br \/>\nterbuka. Individu dengan karakter tertutup seringkali tidak mau melihat suatu<br \/>\nhal dari sudut pandang orang lain. Keacuhannya terhadap sudut pandang orang<br \/>\nlain dapat menyebabkan salah paham, yang kemudian mengakibatkan pertentangan<br \/>\nantarperseorangan (Moekijat, 1990).<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify;text-indent: 36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Sikap keras<br \/>\nkepala dan penyangkalan yang ada dalam diri seseorang juga dapat menyebabkan<br \/>\nkonflik. Pribadi yang memaksakan kehendaknya akan sulit mencapai kata kompromi.<br \/>\nOrang dengan sikap yang terus menyangkal kritik dari orang lain, tidak akan<br \/>\nmengalami perubahan positif dalam kinerjanya. Dengan sikap seperti ini, orang<br \/>\ntersebut dapat mengalami konflik serupa yang berulang (Rusdiana, 2015). <span>\u00a0<\/span><\/span><\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"1\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Penyebab<br \/>\n     dari luar individu<b> <\/b>(Rusdiana,<br \/>\n     2015)<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Persaingan<br \/>\n     tidak sehat<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Demi tercapainya suatu prestasi kerja,<br \/>\nseseorang seringkali kurang menghargai pendapat dan gagasan orang lain.<br \/>\nSebagian di antaranya akan melakukan berbagai macam cara yang tidak sehat untuk<br \/>\nmemenangkan persaingan. <\/span><\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Kompromi<br \/>\n     semu<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Karyawan bisa saja menyetujui semua<br \/>\nkeputusan atau kebijakan di kantornya. Namun, hal yang dirasa tidak sesuai<br \/>\ndipendam begitu saja, tidak pernah disampaikan kepada manajer. Ketika<br \/>\nketidaksesuaian semakin menumpuk, karyawan cenderung mengutarakan keluh<br \/>\nkesahnya di belakang dan membicarakan keburukan pimpinannya. Lambat laun,<br \/>\nketidakseseuaian ini menjadi bumerang untuknya.<\/span><\/div>\n<ol start=\"3\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Pemecahan<br \/>\n     masalah secara sederhana<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Awalnya terjadi suatu konflik kecil dan<br \/>\ndiselesaikan sekadarnya. Fokusnya hanya tertuju pada masalah, tetapi tidak pada<br \/>\norang-orang yang mengalami konflik. Konflik yang pernah terjadi ini dapat<br \/>\nterbuka kembali dengan kompleksitas yang lebih besar.<\/span><\/div>\n<ol start=\"4\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Ketidaksepakatan<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Konflik ini ditandai dengan pendapat<br \/>\nyang diperdebatkan. Selanjutnya ada pihak yang menjaga jarak dengan pihak yang<br \/>\nmemiliki pendapat berbeda. Apabila hal ini terus berlanjut, akan terjadi<br \/>\npembentukan kubu-kubu yang dapat menyebabkan perpecahan.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<b><span lang=\"EN-US\">Mengelola<br \/>\nKonflik <\/span><\/b><span lang=\"EN-US\">(Rusdiana, 2015)<span> <\/span>\u00a0<\/span><br \/>\n<span lang=\"EN-US\">Manajemen<br \/>\nkonflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku maupun pihak ketiga<br \/>\ndalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang dapat menyelesaikan<br \/>\nkonflik Dalam lingkup kerja, manajemen konlik merupakan seni mengatur dan<br \/>\nmengelola konflik yang ada pada lingkungan kerja agar menjadi fungsional dan<br \/>\nbermanfaat bagi peningkatan efektifitas dan prestasi kerja. Adapun strategi<br \/>\nyang dilakukan dalam manajemen konflik adalah sebagai berikut<\/span><\/div>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"1\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><span lang=\"EN-US\">Strategi<br \/>\n     sepihak<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Exit<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Pihak yang lemah keluar dari tekanan<br \/>\ndari pihak yang kuat. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa tekanan akan<br \/>\nmenimbulkan pengaruh yang kuat pada kehidupan pihak yang tertekan.<\/span><\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Avoidance<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\"><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Tindakan menghindar dilakukan<br \/>\nberdasarkan perhitungan positif negatifnya untuk melakukan suatu aksi. Jika hal<br \/>\nnegatifnya lebih banyak dari hal positifnya, maka strategi menghindar ini dapat<br \/>\nditerapkan.<\/span><\/div>\n<ol start=\"3\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Noncompliance<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Pihak dengan kewenangan yang sangat<br \/>\nkecil mencari dukungan atas tindakan yang akan dilakukannya untuk menyelesaikan<br \/>\nkonflik. <\/span><\/div>\n<ol start=\"4\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Unilateral Action<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Salah satu pihak secara sepihak<br \/>\nmelakukan penyelesaian konflik dengan cara yang diinginkannya, melawan pihak<br \/>\nlain. Tindakan ini bisa menyebabkan timbulnya kekerasan.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\">\n<\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"1\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Joint Problem Solving<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Merupakan<br \/>\nstrategi yang dilakukan oleh dua pihak yang berselisih untuk menyelesaikan<br \/>\nkonflik. Strategi ini memungkinkan adanya kontrol terhadap hasil yang dicapai<br \/>\noleh pihak-pihak yang terlibat. Setiap pihak mempunyai hak yang sama untuk<br \/>\nberpendapat dalam menentukan hasil akhir. Strategi penyelesaian konflik ini dilakukan<br \/>\nmelalui pertemuan secara langsung antara pihak-pihak yang berkonflik.<br \/>\nLangkah-langkah yang dapat dilakukan dalam strategi ini adalah sebagai berikut<\/span><\/div>\n<ol start=\"1\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Identification of Interest<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Tahap ini dilakukan dengan menjabarkan kepentingan-kepentingan<br \/>\nindividu-individu atau kelompok-kelompok yang terlibat konflik.<\/span><\/div>\n<ol start=\"2\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Weighting Interest <\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify\">\n<span lang=\"EN-US\">Mempertimbangkan<br \/>\nkepentingan yang paling penting untuk diprioritaskan<\/span><\/div>\n<ol start=\"3\" style=\"margin-top: 0cm\" type=\"a\">\n<li class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;text-align: justify\"><i><span lang=\"EN-US\">Third-Party Assistance and Support<\/span><\/i><\/li>\n<\/ol>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Kedua belah pihak yang bertikai sepakat<br \/>\nuntuk mempergunakan peran orang ketiga untuk membantu menyelesaikan konflik.<br \/>\nPihak ketiga harus bersifat netral agar setiap pihak dapat menerima hasil yang<br \/>\ndisepakati. Strategi ini sedikit menawarkan kompromi atau penyelesaian masalah<br \/>\nsecara kreatif karena pihak ketiga memiliki otoritas penuh. <span>\u00a0\u00a0<\/span><\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: 150%;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 18.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: 18.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\"><br \/>\nStres dan<br \/>\nkonflik di tempat kerja tidak bisa dianggap sepele, karena dapat memberikan<br \/>\npengaruh negatif terhadap kinerja karyawan. Stres dan konflik perlu diatur<br \/>\nsupaya baik dalam jumlah yang besar maupun jumlah yang kecil, manusia yang mengalaminya<br \/>\ndapat bertahan dan beradaptasi. Dengan begitu, individu dapat meminimalkan efek<br \/>\nnegatif keduanya dan mendapatkan kembali kendali diri dalam kehidupan. Sebagai<br \/>\npemimpin, pengelolaan ini diperlukan untuk menjaga produktivitas dan<br \/>\nefektifistas kerja karyawannya. <\/span><\/div>\n<\/div>\n<p>\n<b><span lang=\"EN-US\">Referensi<\/span><\/b><\/p>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Coon,<br \/>\nD., and J.O. Mitterer. 2011. <i>Psychology:<br \/>\nA Journey<\/i>. Wadsworth Cengage Learning. Belmont, pp: 437-438.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Fraser,<br \/>\nT.M. 1984. <i>Human Stress, Work and Job<br \/>\nSatisfaction: A Critical Approach. <\/i>ILO. Geneva, pp: 15-16. <\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Gibson,<br \/>\nJ. L., J.M. Ivancevich, J.H. Donnelly, and R. Konopaske. 2012. <i>Organization: Behaviour, Structure and<br \/>\nProcesses. <\/i>14<sup>th<\/sup> ed. Mc Graw Hill\/ Irwin. New York, pp: 193-226<br \/>\nand 261-289.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Ivancevich,<br \/>\nJ.M., R. Konopaske, and M.T. Matteson. 2008. <i>Organizational Behaviour and Management. <\/i>8<sup>th <\/sup>ed. Mc Graw<br \/>\nHill\/ Irwin. Boston, pp: 280-283.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Moekijat.<br \/>\n1990. <i>Asas-Asas Perilaku Organisasi. <\/i>Mandar<br \/>\nMaju. Bandung, hal: 261.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">National<br \/>\nSafety Council. 2003. <i>Manajemen Stres<\/i>.<br \/>\nEditor: Palupi Widyastuti. EGC. Jakarta, hal: 1-6.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Robbins,<br \/>\nS.P., T.A. Judge, B. Millett, and M. Boyle. 2014. <i>Organisational Behaviour. <\/i>7<sup>th<\/sup> ed. Pearson. Frenchs<br \/>\nForest, pp: 463-465.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">Rusdiana,<br \/>\nH. A., 2015. <i>Manajemen Konflik<\/i>.<br \/>\nPustaka Setia. Bandung, hal: 161-176.<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">by : Janne Hillary<\/span><\/div>\n<div class=\"MsoNormal\" style=\"line-height: normal;margin-bottom: .0001pt;margin-bottom: 0cm;margin-left: 36.0pt;margin-right: 0cm;margin-top: 0cm;text-align: justify;text-indent: -36.0pt\">\n<span lang=\"EN-US\">disampaikan dalam diskusi kelas. <\/span><\/div>\n<p><!--[if !mso]&gt;--><\/p>\n<p>v\\:* {behavior:url(#default#VML);}<br \/>\no\\:* {behavior:url(#default#VML);}<br \/>\nw\\:* {behavior:url(#default#VML);}<br \/>\n.shape {behavior:url(#default#VML);}<\/p>\n<p><!--[if gte mso 9]&gt;--><\/p>\n<p><!--[if gte mso 9]&gt;--><\/p>\n<p>  Normal<br \/>\n  0<\/p>\n<p>  false<br \/>\n  false<br \/>\n  false<\/p>\n<p>  IN<br \/>\n  X-NONE<br \/>\n  X-NONE<\/p>\n<p><!--[if gte mso 9]&gt;--><\/p>\n<p><!--[if gte mso 10]&gt;--><\/p>\n<p> \/* Style Definitions *\/<br \/>\n table.MsoNormalTable<br \/>\n {mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;<br \/>\n mso-tstyle-rowband-size:0;<br \/>\n mso-tstyle-colband-size:0;<br \/>\n mso-style-noshow:yes;<br \/>\n mso-style-priority:99;<br \/>\n mso-style-parent:&#8221;&#8221;;<br \/>\n mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br \/>\n mso-para-margin:0cm;<br \/>\n mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br \/>\n mso-pagination:widow-orphan;<br \/>\n font-size:10.0pt;<br \/>\n font-family:&#8221;Calibri&#8221;,&#8221;sans-serif&#8221;;<br \/>\n mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;}<\/p>\n<p><span class=\"fullpost\"><\/p>\n<p><\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi sebagian besar individu dewasa, bekerja merupakan hal yang lebih dari sekedar kewajiban empat puluh jam seminggu. Bahkan jika kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut ditambahkan, seperti waktu perjalanan ke&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[24,42],"class_list":["post-14","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-blog","tag-mahasiswa","tag-undip"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/imam.dosen.unimus.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}